Internalisasi Nilai Panca Waluya, Fondasi Membangun Budaya Sekolah Ekologi yang Berkarakter dan Berkelanjutan
![]() |
| Local Poto 2026 by doc. |
Internalisasi Nilai Panca Waluya, Fondasi Membangun Budaya Sekolah Ekologi yang Berkarakter dan Berkelanjutan
PURWAKARTA, 4 November 2026 – Penguatan pendidikan karakter melalui internalisasi nilai-nilai Panca Waluya menjadi fokus utama kegiatan In House Training (IHT) Panca Waluya 2026 yang diselenggarakan di SMPN Ekologi Kahuripan Padjajaran Purwakarta, Rabu (4/11/2026).
Mengusung tema “Internalisasi Nilai Panca Waluya dalam Membangun Budaya Sekolah Ekologi yang Berkarakter dan Berkelanjutan”, kegiatan ini menjadi ruang penguatan komitmen pendidik dalam membangun ekosistem sekolah yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pembentukan karakter dan adab peserta didik.
Dalam sambutannya, Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas), Dr. Dede Supendi, M.Pd., menegaskan bahwa semangat pendidikan Panca Waluya memiliki akar historis yang kuat di Kabupaten Purwakarta. Spirit tersebut mulai berkembang sejak masa kepemimpinan Dedi Mulyadi sebagai Wakil Bupati Purwakarta.
Ia mengingatkan bahwa penguatan pendidikan karakter di Purwakarta bukanlah gagasan yang muncul secara tiba-tiba. Berbagai kebijakan daerah telah menjadi landasan dalam membangun pendidikan yang berakar pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, termasuk Peraturan Bupati Nomor 47 Tahun 2005 tentang Muatan Lokal Tatanen di Bale Atikan (TdBA).
Lebih lanjut, ia menyoroti pentingnya Pasal 7 tentang Standar Kompetensi Lulusan (SKL) yang memuat nilai-nilai Panca Waluya sebagai bagian dari arah pembentukan karakter peserta didik.
“Dari sisi regulasi, semuanya sudah ajeg. Tinggal bagaimana kita istiqomah melaksanakannya,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan karakter tidak cukup hanya dengan menghadirkan kebijakan, dokumen, atau slogan di lingkungan sekolah. Nilai-nilai yang telah dirumuskan harus benar-benar hidup dalam perilaku sehari-hari seluruh warga sekolah.
Dr. Dede Supendi juga menekankan tiga pendekatan utama dalam pelaksanaan pendidikan karakter, yaitu:
Pembiasaan, membangun perilaku positif melalui aktivitas yang dilakukan secara berulang.
Konsistensi, menjaga kesinambungan penerapan nilai karakter dalam setiap aktivitas pendidikan.
Keteladanan, menghadirkan guru dan seluruh warga sekolah sebagai contoh nyata dalam perilaku dan tindakan.
Ia juga menegaskan bahwa adab merupakan inti pendidikan karakter. Pengetahuan yang tinggi harus berjalan beriringan dengan sikap santun, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap sesama.
Melalui IHT Panca Waluya 2026, SMPN Ekologi Kahuripan Padjajaran Purwakarta diharapkan semakin memperkuat implementasi nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer dalam seluruh aktivitas pembelajaran maupun budaya sekolah.
Sebab, sekolah ekologi bukan sekadar tempat belajar tentang lingkungan, melainkan ruang tumbuhnya manusia yang mampu menjaga keseimbangan antara kecerdasan, akhlak, kehidupan sosial, dan kelestarian alam.
Panca Waluya bukan sekadar nilai yang diucapkan, tetapi karakter yang dibiasakan, diteladankan, dan diwujudkan dalam kehidupan.
PESONA EKOLOGI
Mengabarkan Praktik Baik, Menginspirasi Perubahan, Menjaga Peradaban.

Leave a Comment