Mengenal Degung Lebih Dekat Melalui Pengalaman Langsung by. Selli

Local photo 2026 by. Selli

Di tengah gempuran teknologi dan hiburan digital, masihkah ada ruang untuk suara degung?

Purwakarta, 12/6/2026. Bagi masyarakat Sunda, suara gamelan degung tentu bukan sesuatu yang asing. Alunan nadanya yang lembut dan menenangkan sering hadir dalam berbagai acara budaya maupun kegiatan masyarakat. Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa kesenian degung memiliki sejarah panjang yang telah berkembang sejak akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-19. Pada masa itu, degung dimainkan di lingkungan para menak atau bangsawan Sunda. Kini, kesenian tersebut telah menjadi warisan budaya yang dapat dipelajari dan dimainkan oleh siapa saja, termasuk para siswa di sekolah.

Awalnya, aku hanya diajak untuk mengikuti latihan degung. Tanpa banyak pertimbangan, aku langsung mengiyakannya. Saat itu, alasanku sederhana: ingin mencoba pengalaman baru. Aku sama sekali tidak menyangka bahwa keputusan kecil tersebut akan membawaku menjadi bagian dari tim nayaga SMPN Ekologi dan memberikan banyak pelajaran berharga tentang keberanian, kerja sama, serta kepercayaan diri.

Dalam tim, aku mendapat tugas memainkan bonang. Pada latihan-latihan pertama, aku hanya berusaha mengikuti arahan pelatih. Aku menghafal notasi yang harus dipukul dan mencoba memainkannya sebaik mungkin. Namun ketika seluruh alat musik dimainkan bersama, aku sering merasa kebingungan. Tidak mudah menentukan kapan harus memukul dan kapan harus menunggu.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai memahami bahwa memainkan gamelan ternyata bukan sekadar menghafal notasi. Ada irama yang harus dirasakan dan ada kebersamaan yang harus dijaga dengan pemain lain. Aku mulai belajar mendengarkan suara saron, kendang, gong, dan jengglong. Dari situlah aku menyadari bahwa setiap alat musik memiliki peran yang sangat penting.

Kendang memberikan petunjuk irama, gong menjadi penanda pergantian bagian lagu, sementara saron membantu menjaga alur melodi. Dengan memahami fungsi masing-masing alat musik, aku mulai mengetahui kapan harus memainkan bonang, kapan harus menunggu, dan kapan harus berhenti.

Lambat laun, aku merasakan bahwa bermain gamelan tidak hanya menggunakan tangan, tetapi juga menggunakan hati. Ketika sudah mampu merasakan alur musiknya, tangan seolah bergerak dengan sendirinya mengikuti irama. Bermain bersama pun menjadi lebih menyenangkan karena tidak lagi bergantung pada hafalan semata, melainkan pada kemampuan mendengarkan dan menyatu dengan seluruh tim nayaga.

Pengalaman tersebut mengajarkanku sebuah hal penting: bermain gamelan bukan tentang menjadi yang paling menonjol, melainkan tentang menciptakan harmoni bersama. Setiap pemain harus saling mendengarkan dan menyesuaikan diri. Ketika semua alat musik dimainkan dengan penuh perhatian dan kebersamaan, terciptalah alunan musik yang indah dan nyaman didengar.

Sebagai bagian dari generasi yang tumbuh tanpa gawai dan internet di genggaman sejak kecil, aku sering memikirkan masa depan kesenian tradisional. Di tengah perkembangan teknologi dan beragam hiburan digital yang semakin menarik, masih adakah ruang bagi suara gamelan degung untuk terus didengar?

Tentu saja, aku tidak menyalahkan generasi muda. Mereka lahir di zaman yang berbeda. Dunia mereka bergerak lebih cepat, pilihan hiburan jauh lebih banyak, dan informasi dapat diakses kapan saja. Namun, ada kekhawatiran ketika warisan budaya yang begitu dekat dengan kehidupan masyarakat Sunda perlahan menjadi asing bagi generasinya sendiri.

Padahal, di balik bunyi bonang, saron, kendang, dan gong tersimpan sejarah panjang, nilai kebersamaan, serta identitas budaya yang tidak dapat digantikan oleh apa pun. Degung bukan hanya seperangkat alat musik tradisional. Degung adalah bagian dari jati diri masyarakat Sunda dan pengingat tentang akar budaya yang kita miliki.

Pengalaman berlatih bersama tim nayaga SMPN Ekologi membuatku semakin yakin bahwa kesenian tradisional tidak kalah menarik dibandingkan hiburan modern. Justru melalui kesenian ini, kita belajar tentang kesabaran, disiplin, kepekaan, tanggung jawab, dan kerja sama. Nilai-nilai yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan saat ini.

Mungkin yang perlu dilakukan bukan memaksa generasi muda untuk mencintai budaya tradisional. Yang lebih penting adalah memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengenalnya secara langsung. Sebab sering kali rasa cinta tumbuh setelah perkenalan.

Aku merasakannya sendiri. Awalnya hanya datang untuk mencoba, tetapi kemudian menemukan makna dalam setiap irama yang dimainkan. Dari situlah aku belajar bahwa mengenal budaya bukan sekadar mempelajari masa lalu, melainkan juga menjaga warisan agar tetap hidup di masa depan.

Kontributor : Selli

No comments

Powered by Blogger.