Mekarjaya Tempat Cerita dan Tradisi Bertemu, by. Raihana (9C)

Local photo 2025 by doc.

Kami pergi menuju Desa Mekarjaya Kec. Wanayasa, tepatnya di rumah Abah Koko. Pada pukul 07.00 pagi, angkot adalah kendaraan yang kami gunakan. Perjalanan menuju rumah Abah Koko tidak akan pernah aku lupakan, karena perjalanannya tidak berjalan dengan lancar, di setiap tanjakan angkot yang kami tempati mundur sampai kami ketakutan, bahkan ada temanku yang menangis karena sangat takut dengan kejadian yang kami alami. Lantunan doa terus dipanjatkan sampai saat angkotnya tidak bisa melewati tanjakan, seketika terdengar teriakan "Allahu Akbar", aku dan beberapa teman yang lain panik berebut ingin menggapai pegangan pintu keluar masuk angkot, akhirnya kami bisa keluar dari angkot, seketika terbesit dalam benakku "mungkin kalau aku keluar aku bisa mengurangi beban yang ada di dalam angkotnya".

Setelah aku dan beberapa temanku keluar dari angkot tersebut, seketika angkot tersebut mundur beberapa meter dari kami dengan kecepatan yang lumayan tinggi. Selama aku di luar angkot, tidak henti-hentinya melantunkan doa untuk keselamatan kami bersama, di pinggir jalan kami berdiam diri dalam keadaan yang masih syok dan jantung yang berdebar dengan kencang, setelah pergantian sopir angkot yang sebelumnya, akhirnya kami bisa melewati tanjakan tersebut dan melanjutkan perjalanan. Alhamdulillah pada pukul 09.00, kami sampai di kediaman kepala Desa Mekar Jaya, yakni Abah Koko. Suasana di desanya masih sangat asri. 

Di sana kami di sambut dengan suasana dingin dan sejuk,aroma asap bakaran kayu dari tungku tradisional sunda atau disebut hawu dan harum tanaman di sekitaran membuat saya merasa nostalgia dan nyaman dengan suasananya, lalu kami dipersilakan duduk di rumah Abah Koko dengan beralaskan tikar tradisional, suasana dingin dan sendu menyentuh kulitku, disisi lain ada air yang sedang dipanaskan hingga mendidih di atas hawu.

Di waktu yang sama pula kami diberi materi tentang budaya,dan adat istiadat yang ada di Desa Mekarjaya. Ada berbagai kegiatan yang dilakukan oleh warga desa tersebut.

Pertama ada acara Hajat Mulud, acara ini untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad Saw. Lalu ada hajat Babari atau tahun baru islam, di Desa Mekarjaya, cara memperingati tahun baru Islam bukan dengan kembang api atau pawai obor melainkan dengan mengadakan acara.

Dalam acara Hajat Babari atau tahun baru islam, setiap orang membawa tumpeng yang nantinya akan dibagikan kembali kepada warga yang mengikuti acara tersebut, dalam kegiatan ini, semua orang yang makan tidak menggunakan piring atau mangkok modern, melainkan menggunakan wadah berbentuk kotak yang dibuat dari daun pisang, yang disebut dengan istilah cangkedong.

Cangkedong hanya digunakan pada saat acara hajat babari dan tidak boleh digunakan di hari-hari biasa.

Didalam acara hajat babari, ada hewan ternak yang dikurbankan,baik domba, kambing, atau hewan ternak yang halal dalam islam lainnya.

Menurutku,acara hajat babari terdapat makna yang indah, tali silaturrahmi dan gotong royong sangat kuat, karena disetiap kegiatan nya dilakukan dengan penuh kebersamaan, mulai dari membuat cangkedong sampai ratusan buah bersama-sama, makan bersama dan hangat canda tawa.

Kegiatan tahunan rutin di desa ini bukan hanya itu saja, melainkan ada ada kegiatan lain yaitu "mangkek paré", biasa dilakukan satu tahun sekali, mangkék paré merupakan kegiatan mengikat paré atau padi sebelum masuk ke dalam leuit (lumbung padi).

Setelah dipaparkan materi oleh Abah Koko,kami melihat terlebih dahulu cara menumbuk paré oleh beberapa ibu-ibu, paré ditumbuk menggunakan lisung, dengan lihai mereka tumbuk paré untuk memisahkan beras dari kulit paré, hingga suara yang khas dari pukulan terdengar meriah ditelinga ku,setelah melihat caranya,aku dan beberapa teman perempuanku mencoba untuk menumbuk padi/paré, ternyata pemukulnya atau lisung sangat berat sampai tangan ku terasa pegal.

Tahap menumbuk padi ada dua, setelah ditumbuk di lisung berbentuk panjang, padi ditumbuk kembali di lisung yang bentuknya bulat cekung, setelah itu masuk ke tahap tampi untuk memisahkan beras dari sekam (kulit padi), setelah itu beras dicuci sampai bersih.

Di atas tungku atau hawu ada sééng yang sudah terisi air mendidih dan aseupan di atasnya,beras yang sudah bersih dimasukkan ke dalam aseupan selama beberapa menit, kemudian dipindahkan ke dalam wadah kayu yang disebut dulang dan disiram air, takarannya menyesuaikan jenis beras yang digunakan, aduk lalu masukkan kembali kedalam asupan sampai sudah waktunya diangkat, jika sudah pindahkan kembali ke dalam dulang lalu aduk sembari di dinginkan menggunakan kipas dangan dari bambu yang disebut hihid.

Setelah diakeul, nasi dipindahkan ke wadah lain yakni boboko wadah yang terbuat dari anyaman bambu, aroma nasi yang baru matang sangat memanjakan indra penciumanku, membuat aku tak sabar untuk makan.

Setelah nasi nya matang,pada pukul 11:14, Bu Hj.Tintin kepala sekolah kami, memberikan buah tangan khas SMPN Ekologi, yaitu sarbunuk,kombucha dan stik bayam brazil yang diterima oleh tangan gagah Abah Koko.

Setelah itu kami pun mengambil makanan khas kasundaan yang sudah disajikan,lalu berdo'a bersama yang dipimpin oleh Pak Ustad Deden, kami pun makan bersama dengan lahap, makanannya enak sekali, ada sambal yang pedas nikmat, labu siam kukus yang menetral kan rasa pedas dan ikan asin yang membuat nasiku cepat habis.

Di rumah Abah Koko, kami tidak masak di dapur,dan bukan pula di dalam ruangan melainkan di halaman rumah nya. Kami masak nasi dari tahap awal padi yang belum menjadi beras, lalu kami melakukan semua tahap bersama-sama sampai menjadi nasi dan dimakan bersama.

Kegiatan outing class ini tidak akan pernah bisa aku lupakan karena semua kegiatan yang kami lakukan bersama tergambar jelas dalam memoriku, walaupun diawal perjalanan ada kejadian yang tidak mengenakkanyang mendebarkan, tetapi hal-hal seru yang kulakukan membayar semua kejadian yang membuatku takut.

Red. Raihana (siswa SMPN EKOLOGI KAHURIPAN kelas 9C)

No comments

Powered by Blogger.